Page 30 - Proceeding of Plenary Abstract of Parallel Symposim
P. 30

namun  pembagian  ini  kadang  dipakai  secara  tumpang  tindih.  Sel  punca  pluripoten
               memiliki potensi untuk dapat berdiferensiasi menjadi seluruh sel yang ada dalam tubuh
               manusia, jenis ini didapatkan dari embrio periode awal yang sangat singkat (dikenal juga
               sebagai sel punca embrionik). Sel punca multipoten potensi diferensiasinya terbatas pada
               lapisan germinal, ini didapatkan dari fetus, plasenta, umbilikus, dan organ manusia dari
               neonatus hingga dewasa. Berdasarkan pengetahuan tentang potensi ini, maka istilah sel
               punca fetalis dan dewasa lebih tepat bila dijadikan satu kelompok yaitu sel punca somatik.
               Sel punca somatik ini yang banyak diteliti untuk terapi organ, ada 2 jenis yaitu sel punca
               hematopoetik (SPH) dan mesenkimal (SPM). Sel punca hematopoetik merupakan
               progenitor seluruh lini sel darah dan digunakan pada transplantasi sumsum tulang untuk
               berbagai penyakit kelainan darah.  Sel punca mesenkimal merupakan sel yang mampu
               berdiferensiasi menjadi berbagai sel yang membentuk banyak organ, termasuk ginjal. 6



               Diskusi

               Dasar kerja sel punca  dikelompokkan dalam 3 mekanisme, yaitu: kemampuan diferensiasi,
               kemampuan imunomodulator dan kemampuan sekresi faktor parakrin.  Penelitian
               preklinis hewan coba memperlihatkan bahwa efek SPM dalam proteksi terhadap ginjal
               adalah melalui mekanisme kerja sekresi sitokin dan molekul lain yang menghambat proses
               inflamasi dan fibrosis, serta meningkatkan proses endogen perbaikan jaringan, termasuk
               angiogenesis. 7,8
                   Penelitian in vitro dan studi preklinis terapi SPM pada penyakit ginjal telah dilakukan
               pada model hewan coba dan memberikan luaran yang menjanjikan hasil  yang lebih
               baik dibandingkan terapi standar saat ini. Efek perbaikan ini  diperlihatkan berdasarkan
               gambaran laboratorium berupa perbaikan kreatinin maupun perubahan gambaran
               histologi, serta perubahan biomarker pro-fibrosis, pro-inflamasi, anti apoptosis, misalnya
                                                          8
               TGF-β1 dan TNF-α baik di darah maupun urin.  Ekstrapolasinya pada manusia tidak
               mudah, karena pada hewan sulit untuk membuat model penyakit yang serupa dengan
               pada manusia.

                   Penelitian mengenai SPM pada penyakit ginjal dengan subyek manusia tidak banyak,
               terutama yang dalam skala besar. Hal ini disebabkan prosesnya yang kompleks dan
               infrastruktur yang memerlukan biaya besar. Berbagai studi memperlihatkan bahwa terapi
               SPM aman, serta dapat memperbaiki fungsi ginjal pada gangguan ginjal akut dan penyakit
               ginjal kronik, serta memperlihatkan efek menurunkan inflamasi dan fibrosis, meskipun
               belum menyembuhkan secara total.  Beberapa uji klinis pada PGK yang telah dilakukan
                                              8
               meliputi subyek dengan LFG 15-60 mL/menit/1,73m2 tanpa memperhatikan etiologi,
               penyakit ginjal polikistik, serta pasien transplantasi ginjal. Hasil uji klinis memperlihatkan
               perbaikan fungsi dan struktur ginjal, namun belum optimal seperti yang diharapkan.
               Kemungkinan penyebabnya adalah kurangnya populasi sel yang terimplantasi di ginjal,
               kesintasan sel yang buruk, dan rendahnya kemampuan parakrin sel punca yang masuk ke
               tubuh. Berbagai hal ini merupakan tantangan yang perlu penelitian lebih lanjut terutama



               Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak XVIII                               15
   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35