Page 33 - Proceeding of Plenary Abstract of Parallel Symposim
P. 33
SAR-Cov-2. Kontrol infeksi di poliklinik di rumah sakit dan puskesmas harus ketat,
3
mulai dari pemakaian masker, cuci tangan, jaga jarak ataupun pemisahan ruangan periksa.
Vaksinasi rutin yang terkait dengan pneumonia balita (DPT, HiB, MR) harus digiatkan
kembali, untuk mencegah terjadinya re-emerging disease di masa datang. 4
Selama pandemi, terjadi penurunan penemuan kasus tuberkulosis dewasa. Kondisi
ini menyebabkan banyak kasus TB dewasa yang tidak terdiagnosis menjadi sumber
penularan, dan anak adalah yang paling berisiko tertular. Untuk itu diperlukan upaya
penemuan kasus TB secara aktif dan pemberian terapi pencegahan TB pada anak kontak
5
erat harus ditingkatkan. Upaya diagnosis TB anak melalui induksi sputum untuk
pemeriksaan tes cepat molekuler (gen-X-pert MTB/RIF) tetap dapat dilakukan dengan
alat pelindung diri (APD) yang sesuai. Bagi anak dengan TB, harus dipastikan pemberian
obat anti TB (OAT) tidak terputus dan frekuensi kunjungan ke layanan kesehatan dapat
disesuaikan. Pemantauan dapat dilakukan melalui telemedicine dan semacamnya. Integrasi
program TB dan Covid-19 dapat dilaksanakan melalui kegiatan contact tracing, dengan
melakukan skrining gejala TB dan Covid-19 bersamaan. Tim TB DOTS RS yang selama
pandemi inaktif, harus dikembalikan fungsinya, berkerjasama dengan manajemen RS,
Dinas Kesehatan, IDI, dan komunitas
Anak dengan asma persisten memerlukan kunjungan rutin ke layanan kesehatan,
namun untuk mengurangi risiko tertular Covid-19 dapat dilakukan pemantauan melalui
telemedicine. Pemberian terapi inhalasi dengan nebulizer merupakan prosedur aerosol
yang berisiko menularkan Covid-19, oleh karena itu pemberian terapi pereda pada anak
serangan asma lebih dianjurkan menggunakan meter dose inhaler dengan spacer. Jika
terpaksa diberikan melalui nebulizer, dilakukan di ruang tersendiri dengan APD dan alat
yang selalu disterilkan.
6
Saat ini, tindakan bronkoskopi pada anak sudah rutin dilaksanakan di beberapa
rumah sakit di Indonesia, baik untuk diagnostik dan terapi. Tindakan ini tetap dapat
dilakukan dengan pemeriksaan PCR sebelumnya, APD yang memadai serta pertimbangan
risiko dan manfaat.
Diskusi
Selama pandemi, peran dokter spesialis anak di komunitas untuk promotif dan preventif
dapat dilakukan melalui webinar. Melalui komunikasi kedokteran yang baik, pemberian
edukasi pada orangtua, guru, kader posyandu dan petugas kesehatan, akan meningkatkan
kepedulian mereka terhadap pencegahan transmisi penyakit respiratori, manfaat kewajiban
pemakaian masker pada anak, tanda bahaya anak sakit di rumah, serta pentingnya
imunisasi. Dokter spesialis anak juga harus menjadi penggerak untuk akselerasi vaksin
Covid-19 pada anak di daerahnya,
Dampak positif pandemi Covid-19 adalah memacu lahirnya banyak inovasi pada
penyakit respiratori Covid-19 ataupun non-Covid-19. Skrining, diagnostik, terapi dan
18 Plenary

