Page 19 - Proceeding of Plenary Abstract of Parallel Symposim
P. 19
Academy of Neurology (AAN) menganjurkan pemeriksaan pemantauan USG kepala
pada usia koreksi hampir matur. MRI kepala dapat melihat lebih rinci berat dan luasnya
1-3
cedera otak dibandingkan dengan USG kepala, khususnya cedera pada white matter dan
serebelar. Temuan USG kepala berupa PVE yang berat dan lama dapat memprediksi
abnormalitas pada MRI, dengan PPV 70%, namun dengan NPV yang rendah sehingga
masih diperdebatkan keunggulan USG kepala terhadap MRI pada cedera otak dengan
gambaran PVE. Sembilan puluh lima persen SEH-IVH sudah terdeteksi dalam 7 hari
pertama kehidupan sehingga skrining USG kepala direkomendasikan dilakukan dalam
minggu pertama kehidupan. Pada IVH derajat berat (3 dan 4) mempunyai korelasi baik
dengan MRI, namun pemeriksaan USG pada GM-IVH derajat rendah (1 dan 2) dan
untuk melihat sisa IVH sensitivasnya rendah. Pemantauan berkala pada perdarahan
1,4
derajat berat diperlukan untuk menetukan terjadinya diatasi ventrikel yang memerlukan
intervensi. . Sarkar dkk mendapatkan PVL kistik yang kemudian menghilang, mempunyai
1
risiko yang sama dengan PVL kistik yang menetap atau terjadi kemudian. Perdarahan
5
serebelar pada USG kepala dapat diperlihatkan lebih baik dengan menggunakan temporal
view, namun masih terjadi underdiagnosis dikarenakan perdarahan sereberal sering kali
ringan. Terdapat korelasi cedera otak berat yang dilihat dengan USG kepala maupun
MRI yang dilakukan pada usia koreksi cukup bulan dengan terjadinya palsi serebral atau
keterlambatan perkembangan neurologi. Gangguan perkembangan neurologis pada tiga
tahun pertama dapat berupa palsi serebral atau gangguan perkembangan neurologi ringan.
Gangguan perkembangan neurologis pada usia sekolah dapat berupa gangguan kognitif
atau pencapaian akademik, kemampuan bahasa, dan motorik.
2
Kesimpulan
Waktu melakukan pemeriksaan neuroimaging dan pemilihan modalitas pencitraan
yang tepat akan membantu mengidentifikasi cedera otak yang mungkin membutuhkan
tindakan atau berisiko untuk terjadi gangguan perkembangan neurologis di kemudian
hari. Cedera white matter berat pada USG kepala dapat memprediksi dampak jangka
panjang. Sedangkan, MRI walaupun lebih superior dari USG kepala dalam mendeteksi
cedera otak non kistik white matter, pemeriksaan ini lebih mahal, memerlukan mobilisasi,
sedasi, dan tidak semua fasilitas kesehatan memilikinya. Nilai prognostik pemeriksaan
neuroimaging tergantung dari modalitas yang dipergunakan, waktu pemeriksaan, dan
klasifikasi yang digunakan. Pemeriksaan skrining dengan USG kepala merupakan pilihan
pertama dan harus menjadi protokol standar dalam perawatan bayi prematur. Walaupun
cedera kepala pada USG terlihat transient, pemantaun tetap harus dilakukan. Pemeriksaan
MRI kepala tidak dilakukan secara rutin, dipertimbangkan bila terdapat kecurigaan kuat
risiko cedera otak atau ditemukan cedera otak berat pada USG kepala, dan pemeriksaan
MRI kepala dilakukan setidaknya setelah bayi mencapai usia koreksi cukup bulan.
4 Plenary

